Jumat, 07 September 2012

Sekularisme, Antiagama atau Anti-Islam?



Sebenarnya jika membahas mengenai sekularisme tidak akan jauh-jauh dari rangkaian manis akronim sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme). Pengusung ideologi di negara ini adalah komplotan JIL atau Jaringan Islam Liberal yang mengklaim bahwa mereka merupakan sekumpulan orang-orang yang berpikir secara moderat meskipun tanpa dibarengi dengan dalil dan ketentuan Al Quran dan Sunnah. JIL ini bukan organisasi pemerintahan ataupun badan yang memiliki struktural yang jelas. Mereka hanya berkumpul dan perkumpulan tersebut merupakan pusat dari segala agenda liberalitas di Indonesia. Mereka mengaku Islam, akan tetapi dalam menafsirkan ketentuan dan keputusan dalam bertindak lebih mengarah ke buah pikiran mereka sendiri. Mereka berpikir bahwa manusia semakin hari semakin cerdas sehingga aturan-aturan Islam yang konvensional perlu direduksi dan diganti dengan pikiran manusia yang lebih moderat dan sesuai dengan arus globalisasi.
(Pembahasan tentang JIL akan saya bagikan lewat tulisan yang berbeda :D)
 

Kembali ke sepilis, dari tiga ideologi dasar itu mari kita pisahkan persuku kata:

Sekularisme, saya lebih senang menyebutnya sebagai paham yang memisahkan urusan dunia dengan agama, ipoleksosbudhankam tidak bisa dicampur dengan agama. Setiap ada pendapat yang membawa ayat ataupun kutipan dari tokoh agama maka pendapat tersebut dianggap tidak valid atau diharamkan.

Pluralisme, pluralisme merupakan sebuah paham yang menyatakan keseragaman dan mengakui kebenaran semua keberagaman yang ada di dunia ini. Ada banyak bentuk pluralisme, bisa pluralisme budaya ataupun agama. Akan tetapi yang menjadi sorot utama terhadap permasalahan Indonesia (dan dunia) saat ini adalah pluralisme agama. Pluralisme ini menyatakan bahwa semua agama pada hakikatnya sama, yaitu menuju jalan kebenaran Tuhan yang hakiki, tidak peduli Kristen, Hindu, Budha, bahkan Islam sekalipun. Sedangkan kita bisa memahami secara logika, bagaimana bisa ketika seseorang sudah meyakini satu agama benar maka dengan paham ini ia pun mengakui kebenaran agama lain?

Yang terakhir adalah liberalisme, liberalisme ini adalah tonggak utama dasar pemikiran sepilis. Kebebasan berpendapat, berekspresi, berpikir, dan kebebasan dari segala bentuk penindasan. Seolah-olah kebebasan ini tidak ada batas, sepertihalnya mereka mengartikan tentang pentingnya mendapat hak tanpa pertimbangan hak lain yang membatasi. Saya menyebutnya paham kebebasan tanpa batas.

Dari tiga hal di atas yang akan saya bahas lebih dalam adalah sekularisme. Apa contoh sekularisme? Apa bahaya dari sekularisme? Siapa yang dirugikan ketika seseorang berpaham sekularisme?

Sekularisme sebenarnya sudah ada sejak dulu. Masih ingatkah teman-teman ketika tujuh kata dasar negara pertama yang diubah menjadi seperti dasar negara yang sekarang? Ketuhanan Yang Maha Esa yang semula berisi tentang penegakan syariat Islam di Indonesia adalah salah satu andil kelompok oran-orang sekular yang tidak ridho jika agama diagungkan. Sehari pasca kemerdekaan, lobi-lobi politik kelompok sekular dan Kristen berhasil menghapuskan sebuah tonggak sejarah bagi penegakan syariat Islam di negeri ini.

Menurut Prof Al-Attas, sekularisme mengandung 3 unsur, disenchantment of nature, deconsecration of politics, dan desacralization of values. Dari ketiga unsur ini, kita dapat melihat bahwa sekularisme adalah ideologi yang antiagama: anti yang dengan sakral-sakralan-(Akmal Sjafril). Jelasnya, pendapat apapun bisa diterima atau dipertimbangkan asalkan tidak bersumber dari agama. Bebas melakukan apapun asalkan tidak bawa-bawa agama. Secara logika paham ini sangat tidak masuk akal, semua dinilai berdasarkan sumber bukan isinya.

Contoh lain ketika seseorang atau suatu pihak berpaham sekular adalah ketika diajak berdiskusi mengenai hukuman orang mencuri, Islam menawarkan solusi berupa potong tangan yang memberikan efek jera. Namun mereka menolak karena sumbernya dari Islam. Ada juga ketika dunia bingung mencari solusi dari banyaknya kematian karena HIV/AIDS. Islam sudah punya solusi atas masalah ini, yaitu menyalurkan kebutuhan biologis lewat jalan yang sah dan halal menurut agama dan negara. Lagi-lagi solusi ini ditolak dan malah menggunakan kondom sebagai solusi untuk menekan jumlah kematian korban HIV/AIDS plus angka aborsi. Propaganda yang dilakukan adalah dengan brain-washing bahwa tidak bisa menuntut salah orang-orang yang melakukan hubungan suka-sama-suka, mereka tidak mengganggu hak siapapun. Lalu Pahlawan Kondom datang seolah-olah menyelamatkan banyak jiwa namun itu justru menghancurkan peradaban yang bermoral. Tak lupa, para ulama yang ikhlas berdakwah tentang masalah ini juga dicaci maki karena dinilai mengukung hak.

Saya ingat tentang salah satu aturan dari perlombaan debat bahasa Inggris yang dulu sering diikuti SMA saya: tidak boleh bawa-bawa agama jika berargumen. Kenapa? Apakah takut jika memang semua menyadari bahwa agama adalah solusi dari setiap permasalahan?

Dalam biografi M. Natsir yang ditulis Ajip Rosidi disebutkan bahwa suatu ketika beliau diundang dalam acara kongres wanita. Pimpinan sidang saat itu wanita, berbagai pendapat dari tiap tokoh sudah disebutkan, pimpinan sidang itu tidak membatasi waktu. Giliran Natsir yang menyampaikan pandangan Islam, pimpinan sidang menyudahi meskipun Natsir belum selesai, jangan bawa-bawa agama katanya. Akhirnya Natsir menjelaskan bahwa yang disampaikan bukan Islamnya melainkan pendapat mengenai hak-hak wanita yang diatur Islam, kemudian Natsir diberi waktu hanya dua menit.

Sekularisme saat ini lebih mengarah pada paham bahwa ‘haram’ hukumnya membawa solusi dari agama karena dianggap tidak netral. Oleh karena itu ketika Turki dikuasi Mustafa Kemal, revolusi penetralan negara dari agama dimulai. Jilbab diganti dengan pakaian ‘normal’, adzan menggunakan bahasa Turki, dan lain-lain. Demikian ketika Indonesia yang tengah menghadapi berbagai persoalan tidak diperkenankan berpendapat atas dasar Islam. Bahkan sekadar menyampaikan firman mengenai kiat memilih pemimpin pun dianggap sebagai provokasi SARA (Astaghfirullah).

Akibatnya, masyarakat bisa memiliki dua kepribadian. Bisa menjelma sebagai muslim yang arif ketika di masjid dan hendak sholat, namun bisa sangat anti terhadap agama ketika bericara masalah politik (misalnya). Padahal, Islam dengan segala kesempurnaannya justru merangkul semua aspek kehidupan manusia, ilmu, teknologi, politik, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Arah paham secular sebenarnya lebih ke modernisasi kehidupan manusia. Mereka berpikir (lagi) bahwa tidak selamanya manusia bisa berpegang pada prinsip yang sama dari dulu. Perubahan yang signifikan diperlukan agar kualitas manusia juga lebih baik. Sedangkah Islam memiliki kekokohan yang bersifat menyeluruh mulai dari landasan dan pelaksanaan ideologinya. Jelas sekali mengapa sekularisme sangat tidak cocok dengan Islam. Makanya saya cenderung mempertanyakan apakah sekularisme itu antiagama atau hanya anti-Islam? Adakah agama lain yang pernah bersiteru dengan paham ini? Tidak. Hanya Islam yang didiskreditkan.

Sekian dulu pembahasan mengenai sekularisme, insya Allah akan dilanjutkan lain kali dengan pluralisme dan liberalisme.



0 komentar:

Poskan Komentar