Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Oktober 2012

B-A-N-G-K-I-T


Apa kabarmu hari ini wahai diri?
Sudahkah engkau menyapa hangatnya pagimu dan sejuknya siang ini dengan kebersyukuran?
Sudahkah engkau berkaca agar  tetap menyadari bahwa tugas hari ini adalah untuk lebih baik dari hari kemarin?
Wahai diri...
Begitu banyak apa-apa yang engkau rasakan, engkau dengar, engkau saksikan
Kekecewaan, kefrustasian, caci maki, mundur dari komunitas demi mencari ketenangan batin
Engkau pun bertanya pada dirimu sendiri, apakah mungkin engkau mundur saja layaknya orang-orang lemah seperti demikian itu?

Sabtu, 02 Juni 2012

Sepucuk Surat dari Seorang ‘Kakak’ (Kado Milad ke-17)

Inilah kado milad saya beberapa tahun yag lalu. Ditulis oleh cinta kasih dari kakak virtual saya yang sampai sekarang belum pernah bertemu.

Suatu hari kita tak pernah saling mengenal dan menilik satu sama lain.
Suatu hari pula, ketika ranting membuat kuncup daunnya, kita tak saling menyapa.
Kita tak pernah tahu akan diri kita sendiri.
Kita bagaikan debu zarrrah yang diciptakan oleh-Nya di dunia yang begitu asing ini.
Surga adalah awal penciptaan kita, di mana akhirnya ruh-ruh itu terselip di badan kita.
Namun, kau dan aku berbeda.

Jumat, 01 Juni 2012

Hai Ikhwan, Dengarkan Kami

Hai Ikhwan, dengarkan kami,
Kami sangat menghargai anugerah kelogisan kalian
Kami mengagumi bagaimana cara kalian menghadapi masalah
Kami senang berkoordinasi dengan kalian untuk dakwah ini
Kami kadang iri dengan keprofesionalan kalian
Dan… kami sering memasukkan gerak-gerik kalian sebagai diskusi kami untuk memotivasi

Kamis, 31 Mei 2012

Kepada Hujan dan Bubur Kacang Ijo

Darimanakah kita menuntut ingatan dapat diselamatkan dari kejaran pikiran? Juga rasa hangat, toko hati mana yang masih buka saat hujan begini? Tukang bubur kacang ijo tampak keren melenggang melewati teras. Duh!

Catatan Senja

Kita sudah banyak mencicipi asam
Namun lupa bagaimana kita bisa menghilangkan sakitnya saat lidah tergerus
Tubuh hancur dan hati berlarian saat perkara perih membengkak
Mengapa bersembunyi ketika matahari tak berapi
Kita takut pada apa-apa yang tak seperti bara

Prasangka Bangkai Mawar

Akulah bangkai mawar,
yang teronggok di sisi taman,
Berapa lama lagi kuakan tinggal dan memandangi teman-temanku turut membusuk

Akulah bangkai mawar,
yang tak lagi mengindahi kota
Jangan seperti aku-hidup disanjung mati tak ada kabung